Truk listrik mulai jadi obrolan serius di dunia logistik Indonesia, apalagi setelah KTB resmi memasarkan Fuso eCanter dan beberapa perusahaan besar mulai mengujinya di jalanan Jabodetabek. Tapi pertanyaan yang paling sering muncul tetap sama, truk listrik VS truk diesel, mana yang sebenarnya lebih hemat buat operasional harian?
Di artikel ini, kita akan bedah perbandingan biaya operasional truk listrik dan truk diesel secara komprehensif, mulai dari spesifikasi teknis, biaya energi, maintenance, sampai data pengalaman nyata dari perusahaan logistik yang sudah mencoba lebih dulu. Semua data yang kita pakai di sini mengacu pada kondisi Indonesia terkini, biar kamu bisa dapat gambaran yang benar-benar relevan buat keputusan bisnis.
Kenalan Dulu dengan Kedua Truk yang Kita Bandingkan
Berikut spesifikasi utama ketiganya berdasarkan data resmi KTB Fuso.
| Parameter | Fuso eCanter Indonesia | Canter FE71L | Canter FE73 |
|---|---|---|---|
| Penggerak | Motor listrik + eAxle | Diesel 4V21 | Diesel 4V21 |
| Energi | Baterai Li-ion 83 kWh | Diesel | Diesel |
| GVW | 6.000 kg | 5.200 kg | 7.000 kg |
| Berat kendaraan/chassis | Sekitar 3.000 kg | 2.050 kg | 2.305 kg |
| Tenaga maksimum | 150 PS | 108 PS | 108 PS |
| Torsi maksimum | 430 Nm | Sekitar 304 Nm | Sekitar 304 Nm |
| Transmisi | Automatic / single-speed EV | Manual 5-speed | Manual 5-speed |
| Kecepatan maksimum | 89 km/jam | 110 km/jam | 105 km/jam |
| Kapasitas energi | 83 kWh | 100 L | 100 L |
| Jarak tempuh | 140 km | 700 – 850 km | 550 – 650 km |
Bobot dan Kapasitas Muatan, Ternyata eCanter Cukup Berat
| Truk | GVW | Berat Tanpa Muatan | Payload |
|---|---|---|---|
| eCanter | 6.000 kg | Sekitar 3.000 kg | Sekitar 3.000 kg |
| FE71L | 5.200 kg | 2.050 kg | Sekitar 3.150 kg |
| FE73 | 7.000 kg | 2.305 kg | Sekitar 4.695 kg |
Meski GVW eCanter lebih besar dibanding FE71L, chassis dasarnya justru sekitar 950 kg lebih berat. Berat baterai dan sistem kelistrikan memakan sebagian keuntungan GVW tersebut. KTB memang menyebut payload eCanter sekitar 3 ton, tapi angka ini bukan berarti 3 ton barang bersih setelah kamu memasang box di atasnya. Berat box aluminium, unit pendingin, tail lift, rak, sopir, dan perlengkapan tambahan tetap harus masuk hitungan terhadap GVW.
Kesimpulannya, untuk barang berat dan padat, FE73 jelas menawarkan ruang payload lebih besar. Sebaliknya, untuk barang ringan tapi bervolume besar, eCanter bisa lebih kompetitif karena batas berat maksimum biasanya bukan jadi kendala utama.
Performa dan Karakter Penggunaan
eCanter menggunakan eAxle, gabungan motor, inverter, reduction gear, dan axle yang terintegrasi dalam satu sistem. Desain ini menghilangkan kebutuhan drivetrain konvensional seperti propeller shaft panjang dan transmisi manual bertingkat.
Dengan tenaga 150 PS dan torsi 430 Nm yang tersalur langsung tanpa perlu pindah gigi, eCanter jadi sangat cocok untuk pola jalan kota, berhenti, jalan lagi, berhenti untuk loading, lalu jalan lagi. Mitsubishi Fuso juga menyematkan regenerative braking empat tingkat pada eCanter, sehingga sebagian energi saat deselerasi kembali mengisi baterai.
Sebaliknya, Canter diesel justru lebih unggul untuk kebutuhan jarak jauh, perjalanan antarkota, rute tol panjang, dan kebutuhan jarak tempuh yang tidak pasti.
Top speed keduanya juga menunjukkan desain yang berbeda. eCanter mentok di 89 km/jam, sementara FE71L bisa sampai 110 km/jam dan FE73 di angka 105 km/jam. Bukan berarti eCanter kurang bertenaga, tapi Mitsubishi memang mendesainnya untuk distribusi perkotaan dan regional pendek, bukan perjalanan jauh. Untuk rute Jakarta ke Tangerang, Bekasi, atau Cikarang, eCanter tidak masalah. Tapi untuk rute yang sering berubah seperti Jakarta ke Bandung atau Jakarta ke Cirebon, Canter diesel jauh lebih fleksibel.
Jarak Tempuh dan Waktu Pengisian Energi
KTB mengklaim baterai 83 kWh eCanter bisa menempuh jarak 140 km. Kalau kita hitung, konsumsinya sekitar 0,593 kWh per km atau setara 59,3 kWh per 100 km. Tapi angka 140 km ini adalah angka spesifikasi, bukan jaminan mutlak di semua kondisi.
Untuk perencanaan armada, sebaiknya kamu merancang rute harian di kisaran 90 sampai 110 km per hari, bukan mepet di angka 140 km. Dengan begitu, masih ada buffer operasional sekitar 20 sampai 35 persen untuk mengantisipasi macet, putar jalan tambahan, pickup ekstra, atau degradasi baterai. Berikut spesifikasi resmi KTB Indonesia untuk eCanter.
| Jenis Charging | Daya | Estimasi Waktu |
|---|---|---|
| AC | 7 kW | 11 sampai 12 jam untuk 0 sampai 100 persen |
| DC fast charging | 25 kW | Sekitar 3 jam |
Diesel jelas jauh lebih praktis di sisi ini. Hanya tinggal isi penuh tangki di SPBU selama beberapa menit saja, lalu langsung bisa jalan lagi menempuh ratusan kilometer. Untuk eCanter, strategi yang masuk akal adalah pola return-to-base, truk kembali ke depo, charging semalaman, pagi hari baterai penuh, lalu beroperasi satu shift sebelum kembali ke depo lagi.
Menariknya, saat peluncuran. Mitsubishi Fuso global menyebut proses fast charging berlangsung di bawah dua jam. Tapi situs resmi KTB Indonesia saat ini mencantumkan angka 25 kW dengan estimasi sekitar 3 jam. KTB bahkan sudah menyiapkan EV Mobile Charger berkapasitas baterai sekitar 65 kWh dengan output hingga 60 kW untuk kondisi darurat. Fungsinya lebih ke pemulihan jarak darurat, bukan pengganti charger di depo.
Perbandingan Biaya Energi per Kilometer
Nah, ini bagian inti yang paling kamu tunggu, perbandingan biaya operasional dari sisi energi. Tarif listrik PLN golongan bisnis B-2 pada 2026 berada di kisaran Rp1.445 per kWh, dan pemerintah menetapkan tarif kuartal ketiga 2026 tidak mengalami kenaikan.
Dengan konsumsi 0,593 kWh per km, biaya energi teoritis eCanter sekitar Rp857 per km, atau sekitar Rp85.700 untuk jarak 100 km. Angka ini belum memperhitungkan losses charger dan beban tambahan lain, sehingga biaya riil dari meteran listrik kemungkinan sedikit lebih tinggi.
Perbandingan Harga Truk Listrik dan Truk Diesel
Secara kasar, Canter diesel dibanderol sekitar Rp400 sampai Rp500 juta, sementara eCanter berada di kisaran Rp1 miliar atau lebih. Selisihnya kira-kira dua kali lipat, sejalan dengan pernyataan KTB pada Agustus 2026 yang menyebut harga eCanter memang masih sekitar dua kali harga Canter diesel. Perlu diingat, KTB memakai skema harga berbasis kebutuhan pelanggan, jenis bodi, charger, dan paket servis, jadi angka pastinya bisa berbeda-beda tergantung konfigurasi.
Dengan modal awal dua kali lipat, biaya operasional yang lebih murah tidak otomatis bikin total cost of ownership eCanter lebih rendah. Semua kembali ke utilisasi harian kendaraan, eCanter yang cuma jalan 40 km per hari jelas butuh waktu jauh lebih lama buat balik modal dibanding yang konsisten jalan 100 km per hari selama 300 hari setahun.
Data Dunia Nyata Lebih Konservatif dari Klaim Teori
Perhitungan di atas kepala memang menarik, tapi data lapangan biasanya lebih realistis. PT Yusen Logistics Indonesia melakukan uji coba eCanter sekitar tiga bulan sebelum memutuskan membeli unit. Mereka melaporkan penghematan biaya operasi sekitar 20 sampai 30 persen dari sisi energi, dengan total penghematan sekitar 28 persen tergantung jarak dan kondisi operasi.
Sementara itu, pada Agustus 2026, Fastana Logistics menyebut berdasarkan perhitungan internal mereka, efisiensi biaya energi bisa mencapai sekitar 41 persen, belum termasuk komponen maintenance. Kita lebih tepat menganggap angka ini sebagai proyeksi awal perusahaan, bukan data fleet jangka panjang yang sudah teruji lama.
Jadi, angka yang lebih layak jadi dasar keputusan bisnis bukan sekadar perbandingan Rp857 per km versus Rp2.963 per km di atas kertas, melainkan hasil uji coba atau proof of concept di rute operasional milik kamu sendiri.
Perawatan dan Garansi
Canter diesel punya banyak komponen yang perlu perawatan rutin, mulai dari mesin diesel, injektor common rail, turbo, sistem pendingin mesin, oli mesin, filter oli, filter BBM, kopling, transmisi manual, propeller shaft, differential, sampai sistem exhaust Euro 4.
eCanter menghilangkan cukup banyak komponen tersebut karena menggunakan eAxle terintegrasi, sehingga secara teori jumlah komponen yang rawan aus dan butuh perawatan jadi lebih sedikit. Yusen juga melaporkan biaya maintenance eCanter lebih rendah dibanding truk diesel konvensional dalam uji coba mereka. Meski begitu, ada trade-off tersendiri, komponen yang tersisa seperti baterai tegangan tinggi, inverter, motor, dan sistem HV jauh lebih khusus, dan bengkel diesel biasa tidak bisa menanganinya.
Soal garansi, eCanter justru tampil cukup meyakinkan. Berikut rincian garansi resmi dari KTB.
| Komponen | Garansi eCanter |
|---|---|
| Kendaraan umum | 3 tahun / 60.000 km |
| Baterai tegangan tinggi | 6 tahun / 180.000 km |
| eDM dan gearbox | 5 tahun / 100.000 km |
| Komponen HV-EV lain | 5 tahun / 100.000 km |
Sebagai pembanding, Canter diesel secara umum memberi garansi 3 tahun atau 100.000 km. Artinya, khusus untuk komponen paling mahal seperti baterai tegangan tinggi, proteksi eCanter terbilang cukup panjang. Meski begitu, tetap penting menanyakan ke dealer secara tertulis, apakah garansi baterai hanya mencakup kerusakan atau juga menjamin batas minimum kesehatan baterai atau capacity degradation tertentu, karena KTB belum menjelaskan detail ini secara rinci di halaman publiknya.
Faktor Lain yang Ikut Memengaruhi Biaya Operasional
Selain energi dan maintenance, ada beberapa faktor lain yang tidak kalah penting buat kamu pertimbangkan.
- Safety dan kenyamanan pengemudi. KTB mencantumkan fitur ESP, Lane Departure Warning System, Electronic Parking Brake, kamera belakang, AVAS, DRL, sampai high-voltage cut-off switch pada eCanter. Dari sisi kenyamanan, eCanter juga tidak punya getaran idle mesin diesel, tidak ada perpindahan kopling dan gigi manual berulang, akselerasinya halus, dan jauh lebih senyap.
- Jaringan penjualan. Ini kelemahan besar eCanter yang sering luput dari perhatian. Pada 2026, KTB baru menyiapkan tiga dealer khusus eCanter di Jabodetabek dengan teknisi dan alat diagnostik EV. Bandingkan dengan jaringan Canter diesel yang sudah mencapai ratusan dealer, belasan bengkel dan ribuan outlet spare part di seluruh Indonesia.
- Resale value. Per Agustus 2026, baru tiga perusahaan logistik di Indonesia yang memakai eCanter sejak KTB meluncurkannya pada 2024. Pasar kendaraan bekas eCanter praktis belum ada, sehingga nilai jual kembali di usia lima tahun, kondisi baterai di level kesehatan 70 sampai 80 persen, minat perusahaan leasing terhadap unit bekas, dan biaya penggantian baterai pascagaransi masih jarang ditemukan. Sebaliknya, Canter diesel sudah punya ekosistem pasar kendaraan bekas yang sangat matang.
Jadi, Kapan Pilih Truk Listrik dan Kapan Pilih Truk Diesel?
Supaya lebih mudah dipahami, berikut rangkuman kondisi operasional yang paling sesuai untuk masing-masing jenis truk.
| Kondisi Operasional | Pilihan yang Lebih Masuk Akal |
|---|---|
| Distribusi dalam kota | Truk listrik |
| Rute tetap setiap hari | Truk listrik |
| Jarak 70 sampai 100 km per hari | Truk listrik sangat cocok |
| Banyak pola stop-and-go | Truk listrik |
| Kembali ke gudang setiap malam dan punya charger sendiri | Truk listrik |
| Barang ringan tapi bervolume besar | Truk listrik cukup ideal |
| Target ESG atau green logistics | Truk listrik |
| Rute yang sering berubah | Truk diesel |
| Lebih dari 140 km per hari tanpa kesempatan charging | Truk diesel |
| Perjalanan antarkota | Truk diesel |
| Butuh payload besar | Truk diesel |
| Operasi di daerah tanpa jaringan servis EV | Truk diesel |
| Butuh isi energi sangat cepat | Truk diesel |
| Fokus pada harga beli awal yang lebih rendah | Truk diesel |
| Butuh kepastian resale value | Truk diesel |
Isu Terbaru untuk Canter Diesel
Ada satu kabar terbaru yang perlu kamu tahu kalau sedang mempertimbangkan Canter diesel, terutama unit bekas. Pada 24 September 2026, KTB mengumumkan Field Fix Campaign untuk Canter Euro 4 produksi 1 April 2022 sampai 30 Mei 2026, akibat potensi masalah daya tahan pada brake light switch. KTB menegaskan masalah ini terkait fungsi lampu rem, bukan kemampuan sistem pengereman itu sendiri, dan perbaikannya gratis dengan waktu pengerjaan sekitar satu jam, berupa penambahan relay atau sub-harness dan penggantian komponen terkait. Kalau kamu berencana membeli Canter Euro 4 bekas atau unit dari periode produksi tersebut, pastikan kamu mengecek nomor VIN dan menanyakan apakah bengkel resmi sudah menjalankan campaign ini.
Kesimpulan
Truk listrik bukan berarti harus menggantikan semua truk diesel. Keduanya punya fungsi yang berbeda. Untuk perusahaan cargo, untuk saat ini truk listrik lebih cocok sebagai kendaraan khusus dengan rute tertentu. Berikut beberapa poin pentingnya:
- Truk listrik unggul untuk pola return-to-base. Cocok buat rute depo ke titik pengiriman Jabodetabek, beberapa titik antar, dengan jarak sekitar 70km sampai 100km/ rit (ritase)
- Karakter truk listrik mendukung pola kerja perkotaan. Torsi besar, transmisi otomatis, regenerative braking, suara mesin yang senyap, komponen lebih sederhana, dan biaya energi yang rendah.
- Truk diesel lebih unggul untuk rute fleksibel. Kalau satu kendaraan harus melayani rute berubah-ubah.
- Diesel masih menang di jarak tempuh dan kecepatan isi ulang energi. Truk diesel unggul dari sisi jarak tempuh, kecepatan pengisian bahan bakar, pilihan payload, jaringan servis, dan fleksibilitas operasional secara keseluruhan.
- Fleet campuran adalah opsi paling masuk akal. Buat perusahaan cargo, strategi terbaik bukan mengganti seluruh armada sekaligus, melainkan memakai truk listrik untuk pengiriman perkotaan dengan rute yang bisa diprediksi, dan truk diesel untuk kebutuhan overflow, antarkota, serta pekerjaan yang polanya sulit ditebak.




