Ketika mengirim kargo antarpulau dari Jawa Timur, memilih pelabuhan tidak cukup hanya dengan melihat mana yang paling besar atau paling terkenal. Yang lebih penting adalah kecocokan antara jenis muatan, lokasi asal barang, pelabuhan tujuan, layanan kapal yang tersedia, serta biaya distribusi sebelum dan setelah barang naik kapal.
Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya memang menjadi salah satu titik penting dalam jaringan logistik Jawa Timur. Namun Tanjung Perak tidak dapat dibandingkan begitu saja dengan Gresik, Tanjung Wangi, Kalianget, atau Ketapang seolah semuanya menawarkan fungsi yang sama.
Masing-masing memiliki karakter layanan berbeda.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar “pelabuhan mana yang terbaik?”, tetapi “pelabuhan mana yang paling sesuai untuk pola pengiriman yang akan dilakukan?”
Tanjung Perak Bukan Hanya Satu Terminal Kargo
Salah satu alasan Tanjung Perak banyak digunakan dalam distribusi barang adalah keberadaan beberapa terminal dengan fungsi berbeda dalam satu kawasan logistik Surabaya.
Untuk kargo nonpetikemas, Terminal Jamrud melayani general cargo dan curah kering. Pelindo Multi Terminal menjelaskan bahwa Jamrud Utara dan Jamrud Barat melayani general cargo serta curah kering internasional, sedangkan Jamrud Selatan melayani general cargo domestik.[1]
Artinya, fungsi Tanjung Perak tidak terbatas pada pengiriman barang menggunakan kontainer.
Untuk peti kemas domestik terdapat Terminal Berlian yang dioperasikan PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (BJTI). BJTI menyebut bongkar muat peti kemas domestik sebagai layanan utamanya.[2]
Di sisi lain, PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) melayani peti kemas internasional maupun domestik. Laporan Pelindo Terminal Petikemas juga menunjukkan bahwa kedua jenis trafik tersebut memang ditangani TPS.[3]
Kawasan logistik Surabaya juga ditopang Terminal Teluk Lamong. Berdasarkan profil perusahaan terminal tersebut, fasilitas peti kemasnya memiliki total panjang dermaga 1.250 meter, draft dermaga -14 mLWS dan kapasitas total sekitar 1,4 juta TEUs. Terminal ini juga memiliki fasilitas khusus untuk curah kering.[4]
Kombinasi tersebut yang lebih relevan untuk dipahami oleh pengirim: Surabaya memiliki beberapa pilihan terminal untuk menangani peti kemas, general cargo hingga muatan curah.
Jadi, Apa Keuntungan Mengirim Kargo Melalui Surabaya?
Keuntungan utamanya bukan semata-mata karena Tanjung Perak berukuran besar.
Yang lebih penting adalah tersedianya ekosistem terminal dan layanan pelayaran yang beragam.
Bagi perusahaan ekspedisi, keberadaan beberapa terminal memungkinkan jalur pengiriman disesuaikan dengan jenis muatan dan layanan kapal yang digunakan. Barang konsolidasi dalam peti kemas tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan barang curah atau general cargo.
Hal yang sama berlaku dari sisi rute.
Sebagai contoh, salah satu operator pelayaran nasional, SPIL, pada jadwal yang dipublikasikan tahun 2026 mencantumkan layanan mingguan dari Surabaya ke Makassar, Balikpapan dan Papua. Estimasi yang dicantumkan operator tersebut sekitar 2–4 hari untuk Surabaya–Makassar, 3–5 hari ke Balikpapan, dan 7–14 hari untuk sejumlah rute Papua.[8]
Angka tersebut bukan standar waktu seluruh ekspedisi dan bukan jaminan door-to-door. Data tersebut hanya menunjukkan contoh bahwa Surabaya memang memiliki layanan pelayaran antarpulau yang terjadwal.
Jadwal aktual tetap perlu diperiksa karena kapal, rute, transit dan waktu keberangkatan dapat berubah.
Bagaimana dengan Pelabuhan Gresik?
Pelabuhan Gresik memiliki karakter yang berbeda.
Pelindo Multi Terminal mengategorikan layanan Gresik untuk liquid bulk, dry bulk, general cargo dan penumpang. Fasilitasnya antara lain dermaga sepanjang 717 meter, lapangan penumpukan 26.374 m² dan gudang 1.350 m².[5]
Aktivitas bongkar muatnya juga sangat terkait dengan kebutuhan industri di wilayah Gresik.
Pada triwulan I 2026, Pelindo Multi Terminal mencatat aktivitas general cargo, bag cargo, curah kering dan curah cair di Gresik. Komoditas yang ditangani antara lain kayu log, material besi, pupuk, semen, jagung, kernel dan CPO.[5]
Karena itu, Gresik tidak tepat diposisikan hanya sebagai “versi lebih kecil dari Tanjung Perak”.
Untuk muatan industri atau komoditas tertentu yang sumber barangnya berada di kawasan Gresik dan sekitarnya, menggunakan fasilitas di Gresik dapat lebih relevan daripada membawa barang terlebih dahulu ke Surabaya.
Sebaliknya, jika kebutuhannya adalah pengiriman peti kemas konsolidasi ke kota tertentu di luar Jawa, ketersediaan layanan kapal dan rutenya harus diperiksa terlebih dahulu.
Jarak pelabuhan yang lebih dekat belum tentu menghasilkan rantai pengiriman yang lebih pendek jika kapal menuju tujuan yang dibutuhkan tidak tersedia dari sana.
Tanjung Wangi Lebih Relevan untuk Kawasan Timur Jawa Timur
Pertimbangan yang sama berlaku untuk Pelabuhan Tanjung Wangi di Banyuwangi.
Pelindo Multi Terminal mengategorikan Tanjung Wangi untuk layanan liquid bulk, dry bulk, general cargo dan penumpang. Operator juga menyebut pelabuhan ini sebagai penyangga Tanjung Perak dan salah satu gerbang bagi wilayah timur Jawa Timur seperti Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso dan Jember.[6]
Karakter muatannya juga berbeda.
Pada semester I 2025, misalnya, Pelindo mencatat aktivitas curah cair seperti BBM, curah kering seperti pupuk, kedelai, gypsum dan slag, serta komoditas perikanan melalui Tanjung Wangi.[6]
Bagi pemilik barang dari kawasan Tapal Kuda, posisi Tanjung Wangi dapat mengurangi kebutuhan membawa seluruh muatan ke Surabaya apabila jenis barang dan layanan kapal yang dibutuhkan memang tersedia.
Tetapi sekali lagi, keputusan tidak dapat hanya berdasarkan jarak.
Untuk pengiriman ke kota tertentu di Kalimantan, Sulawesi, Maluku atau Papua, pengirim tetap harus memastikan apakah tersedia layanan langsung, perlu transit, atau barang justru lebih efisien dikonsolidasikan melalui Surabaya.
Kalianget Punya Fungsi Regional yang Berbeda
Pelabuhan Kalianget di Sumenep lebih tepat dilihat sebagai simpul transportasi bagi Madura dan kepulauan di sekitarnya daripada dibandingkan langsung dengan terminal peti kemas besar di Surabaya.
Data KSOP Kalianget mencatat dermaga umum sepanjang 107 meter dengan kapasitas sandar kapal sekitar 3.000 DWT.[7]
Skalanya menunjukkan karakter operasional yang berbeda dengan terminal-terminal besar di kawasan Surabaya.
Bagi pengiriman yang berasal dari atau ditujukan ke wilayah Sumenep dan kepulauan sekitarnya, Kalianget memiliki fungsi penting. Namun untuk distribusi peti kemas antarpulau dalam jaringan yang lebih luas, pengirim tetap perlu melihat koneksi pelayaran selanjutnya.
Ketapang Bukan Pengganti Tanjung Perak
Pelabuhan Ketapang bahkan mempunyai fungsi yang lebih berbeda lagi.
Ketapang merupakan simpul penyeberangan Jawa–Bali melalui lintasan Ketapang–Gilimanuk. Aktivitas kendaraan logistik merupakan bagian penting dari trafik di lintasan ini.
Pada Maret 2026, misalnya, ASDP mencatat kepadatan di Ketapang didominasi truk logistik setelah berakhirnya pembatasan operasional angkutan barang. ASDP meresponsnya dengan penambahan perjalanan, armada kapal dan pengaturan kendaraan melalui buffer zone.[7]
Karena itu, Ketapang sangat relevan untuk distribusi barang menggunakan kendaraan antara Jawa dan Bali.
Namun fungsi tersebut berbeda dengan terminal peti kemas yang menghubungkan Surabaya dengan pelabuhan di Sulawesi, Kalimantan, Maluku atau Papua.
Membandingkan Ketapang dan Tanjung Perak berdasarkan ukuran pelabuhan saja tidak memberikan informasi yang berguna bagi pengirim.
Perbandingan Fungsi Pelabuhan di Jawa Timur
Secara sederhana, karakter beberapa pelabuhan tersebut dapat dibaca seperti berikut:
| Pelabuhan | Karakter Utama | Lebih Relevan untuk |
|---|---|---|
| Tanjung Perak | Peti kemas domestik/internasional, general cargo dan curah | Distribusi antarpulau dengan jaringan pelayaran dari Surabaya |
| Gresik | General cargo, curah kering, curah cair | Kargo industri dan komoditas dari kawasan Gresik dan sekitarnya |
| Tanjung Wangi | General cargo, curah kering/cair dan layanan penumpang | Distribusi dan komoditas dari kawasan timur Jawa Timur |
| Kalianget | Pelabuhan regional dengan skala kapal lebih kecil | Sumenep dan kepulauan di sekitarnya |
| Ketapang | Penyeberangan kendaraan | Distribusi darat Jawa–Bali |
Tabel ini bukan peringkat kualitas pelabuhan. Fungsi masing-masing memang berbeda.
Jangan Menghitung Biaya Hanya dari Tarif Kapal
Dalam menentukan pelabuhan, ada satu kesalahan yang jauh lebih penting daripada sekadar mencari tarif per kilogram termurah: mengabaikan biaya sebelum dan setelah perjalanan laut.
Misalnya sebuah perusahaan memiliki barang di Malang dan akan mengirimnya ke Makassar.
Pilihan pelabuhan tidak dapat ditentukan hanya dengan membandingkan tarif kapal.
Yang perlu dihitung antara lain:
- biaya pickup dari lokasi barang;
- perjalanan menuju gudang atau terminal;
- biaya konsolidasi apabila menggunakan LCL;
- biaya handling;
- ocean freight;
- kemungkinan transit;
- penanganan di kota tujuan;
- dan biaya pengantaran sampai penerima.
Pada pengiriman kontainer, komponen lain seperti Terminal Handling Charge, storage, demurrage dan trucking juga dapat memengaruhi total biaya apabila memang muncul dalam skema pengiriman yang digunakan.[8]
Karena itu, pelabuhan dengan tarif laut lebih murah belum tentu menghasilkan total biaya pengiriman yang lebih rendah.
Jadwal Kapal Bisa Lebih Penting daripada Selisih Tarif
Pertimbangan berikutnya adalah jadwal.
Misalnya terdapat dua alternatif:
Pelabuhan A
- lebih dekat dari gudang;
- biaya trucking lebih murah;
- tetapi kapal ke tujuan hanya tersedia pada jadwal tertentu atau harus transit.
Pelabuhan B
- perjalanan darat menuju pelabuhan lebih jauh;
- tetapi tersedia layanan kapal yang lebih rutin atau rute yang lebih langsung.
Dalam kondisi seperti ini, alternatif B dapat menghasilkan lead time keseluruhan yang lebih pendek meskipun biaya perjalanan menuju pelabuhannya lebih besar.
Inilah alasan tarif, jadwal dan rute seharusnya diperiksa sebagai satu rangkaian.
Estimasi operator juga harus dibaca dengan benar. Ketika operator menyebut Surabaya–Makassar membutuhkan 2–4 hari, angka tersebut tidak otomatis berarti barang yang dijemput hari ini akan tiba di alamat pelanggan empat hari kemudian.[8]
Masih ada proses pickup, konsolidasi, cut-off, menunggu keberangkatan, bongkar di pelabuhan tujuan dan distribusi darat.
LCL atau FCL Juga Mempengaruhi Pilihan
Untuk peti kemas, kebutuhan pengirim juga berbeda berdasarkan volume.
FCL (Full Container Load) menggunakan satu kontainer untuk satu pengiriman atau satu pemilik muatan sesuai skema layanan yang digunakan.
Sedangkan LCL (Less than Container Load) memungkinkan beberapa muatan dikonsolidasikan dalam satu kontainer.
Bagi UMKM atau perusahaan yang volumenya belum cukup untuk menggunakan satu kontainer penuh, akses terhadap layanan konsolidasi LCL dapat menjadi faktor penting.
Pengirim tidak hanya membutuhkan pelabuhan yang dapat menangani kontainer. Mereka juga membutuhkan ekspedisi atau penyedia logistik yang mempunyai jaringan konsolidasi ke kota tujuan.
Ini pula yang menjelaskan mengapa dua ekspedisi yang sama-sama berangkat melalui Surabaya dapat menawarkan jadwal dan struktur biaya berbeda.
Kapan Tanjung Perak Menjadi Pilihan yang Masuk Akal?
Untuk pengiriman antarpulau, Tanjung Perak dan jaringan terminal di Surabaya patut dipertimbangkan ketika:
- barang berasal dari Surabaya atau wilayah yang mempunyai akses darat efisien ke Surabaya;
- tersedia layanan kapal menuju kota tujuan;
- barang akan dikirim melalui peti kemas LCL atau FCL;
- membutuhkan pilihan layanan dari beberapa operator pelayaran;
- atau pengiriman memerlukan proses konsolidasi sebelum diberangkatkan.
Sebaliknya, memaksakan semua barang melalui Surabaya juga tidak selalu efisien.
Barang industri dari Gresik, komoditas dari Banyuwangi dan sekitarnya, distribusi regional dari Sumenep, serta pengiriman kendaraan menuju Bali mempunyai pilihan pelabuhan yang berbeda.
Cara Memilih Pelabuhan Sebelum Mengirim Barang
Sebelum menentukan jalur, ada lima informasi yang sebaiknya sudah diketahui:
- Dari mana barang dijemput?
- Ke kota mana barang akan dikirim?
- Berapa berat dan volume barangnya?
- Jenis barang apa yang dikirim?
- Kapan barang harus sampai?
Dari lima data tersebut barulah dapat diperiksa:
- lokasi pickup
- gudang/konsolidasi
- pelabuhan asal
- kapal
- pelabuhan tujuan
- distribusi darat
- penerima.
Pendekatan ini jauh lebih berguna daripada langsung bertanya, “lebih murah lewat pelabuhan mana?”
Sebab pelanggan pada akhirnya tidak membeli jasa pelabuhan. Yang dibutuhkan adalah barang sampai dari titik asal ke titik tujuan dengan biaya dan waktu yang sesuai kebutuhan.
Kesimpulan: Tanjung Perak Unggul pada Konektivitas, Bukan untuk Semua Jenis Pengiriman
Jika tujuan utamanya adalah mengirim kargo antarpulau dari Jawa Timur, terutama menggunakan peti kemas atau general cargo menuju Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua, kawasan pelabuhan Surabaya menjadi pilihan yang paling masuk akal untuk diperiksa terlebih dahulu.
Alasannya bukan semata-mata karena Tanjung Perak lebih besar. Surabaya memiliki beberapa terminal dengan fungsi berbeda, layanan peti kemas domestik maupun internasional, fasilitas general cargo, serta akses terhadap berbagai operator dan rute pelayaran antarpulau. Kombinasi inilah yang membuat barang dari berbagai daerah di Jawa Timur sering dikonsolidasikan melalui Surabaya sebelum diberangkatkan ke luar Jawa.
Namun itu tidak berarti semua barang harus dibawa ke Tanjung Perak.
Untuk muatan industri dan komoditas tertentu dari kawasan Gresik, menggunakan pelabuhan di Gresik dapat lebih efisien. Barang dari Banyuwangi dan kawasan timur Jawa Timur juga dapat memanfaatkan Tanjung Wangi apabila layanan yang dibutuhkan tersedia. Kalianget memiliki fungsi penting untuk distribusi Sumenep dan kepulauan sekitarnya, sedangkan Ketapang lebih relevan untuk arus kendaraan dan logistik Jawa–Bali.
Jadi, pelabuhan terdekat belum tentu menjadi pilihan termurah, dan pelabuhan terbesar juga belum tentu selalu menjadi pilihan terbaik.
Yang perlu dibandingkan adalah seluruh rantai pengirimannya:
- lokasi barang
- biaya pickup
- terminal/pelabuhan
- jadwal kapal
- rute atau transit
- pelabuhan tujuan
- pengantaran ke penerima.
Jika sebuah pelabuhan lebih dekat tetapi pilihan kapalnya terbatas atau membutuhkan transit tambahan, total biaya dan waktunya dapat lebih besar daripada membawa barang sedikit lebih jauh ke Surabaya lalu menggunakan rute yang lebih sesuai.
Bagi pengirim, inilah poin terpentingnya: jangan memilih pelabuhan berdasarkan nama besar atau jarak saja. Pilih jalur yang menghasilkan kombinasi terbaik antara ketersediaan kapal, waktu pengiriman, dan total biaya sampai barang diterima di tujuan.
Dalam konteks tersebut, Tanjung Perak kuat sebagai hub pengiriman antarpulau, sedangkan pelabuhan lain di Jawa Timur tetap penting untuk kebutuhan yang lebih spesifik sesuai wilayah dan karakter muatannya.
KP Cargo melayani pengiriman barang antarpulau melalui jalur darat, laut dan udara. Untuk pengiriman dari Jawa Timur, tim KP Cargo dapat membantu mengecek rute, jadwal, kebutuhan pickup serta pilihan layanan berdasarkan jenis barang, berat, volume dan kota tujuan.
Referensi dan Sumber Data
[1] PT Pelindo Multi Terminal — Terminal Jamrud Nilam Mirah
Data fungsi Jamrud Utara, Barat dan Selatan serta jenis kargo yang dilayani.
https://pelindomultiterminal.co.id/portfolio/jamrud-nilam-mirah
[2] PT Berlian Jasa Terminal Indonesia — Profil BJTI Port
Informasi mengenai Terminal Berlian dan layanan peti kemas domestik.
https://www.bjtiport.co.id/b/index.php?Itemid=210&id=13&option=com_content&view=article
[3] PT Pelindo Terminal Petikemas — PT Terminal Petikemas Surabaya
Data kegiatan peti kemas domestik dan internasional TPS.
https://www.pelindotpk.co.id/assets/source/files/report/laporan-triwulan/laporan-triwulanan-manajemen-pt-pelindo-terminal-petikemas-periode-semester-i-tahun-2025.pdf
[4] PT Terminal Teluk Lamong — Company Profile
Data kapasitas, panjang dermaga, draft dan fasilitas terminal.
https://www.teluklamong.co.id/uploads/konten/berkas/78/PRESENTASI_PERUSAHAAN_677f571d90b77_78_09-01-2025.pdf
[5] PT Pelindo Multi Terminal — Pelabuhan Gresik
Profil fasilitas, jenis layanan dan aktivitas bongkar muat Pelabuhan Gresik.
https://www.pelindomultiterminal.co.id/portfolio/gresik
[6] PT Pelindo Multi Terminal — Pelabuhan Tanjung Wangi
Profil pelabuhan, wilayah hinterland dan jenis layanan yang tersedia.
https://pelindomultiterminal.co.id/portfolio/tanjung-wangi
[7] Direktorat Jenderal Perhubungan Laut & PT ASDP Indonesia Ferry
Data fasilitas Pelabuhan Kalianget dan operasional logistik lintasan Ketapang–Gilimanuk.
https://hubla.dephub.go.id/storage/ksopkalianget/documents/post/15125/laporan_tahunan_2022.pdf
https://www.asdp.id/siaran-pers/lonjakan-truk-logistik-padati-pelabuhan-ketapang-kolaborasi-asdp-dan-stakeholder-menjadi-kunci
[8] PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL)
Referensi jadwal, estimasi pelayaran dan komponen operasional pengiriman kontainer.
https://www.spil.co.id/blogs/jadwal-kapal-container/
https://www.spil.co.id/blogs/rute-surabaya-makassar/




