Daftar ini merangkum 10 operator peti kemas terbesar di dunia berdasarkan kapasitas armada terpasang (TEU) menurut Alphaliner (pembaruan Maret 2025). Untuk konteks bisnis, setiap profil juga memuat pendapatan tahun buku 2024 dari laporan resmi perusahaan atau pengumuman investor. Angka TEU menunjukkan daya angkut terpasang hasil kombinasi kapal milik dan sewa; angka pendapatan mencerminkan skala ekonomi aktual di luar siklus tarif.
Table of Contents
Toggle1) MSC (Mediterranean Shipping Company)

MSC memimpin kapasitas global dengan sekitar 6,41 juta TEU dari ~889 kapal. Model ekspansi agresif via pembelian kapal bekas dan pemesanan baru mendorong dominasinya di rute Asia–Eropa dan Trans-Pasifik. Berbeda dari pesaing publik, MSC tidak mempublikasikan laporan keuangan sehingga pendapatan tahunannya tidak tersedia untuk umum; ini konsisten dengan statusnya sebagai perusahaan privat. Di jaringan layanan, MSC beroperasi independen di luar aliansi formal namun kerap menjadi mitra slot.
2) Maersk

Maersk berada di peringkat dua dengan ~4,54 juta TEU dan ~735 kapal. Pada 2024, Maersk membukukan pendapatan konsolidasi USD 55,48 miliar dengan EBIT USD 6,50 miliar, ditopang kenaikan tarif karena pengalihan rute Tanjung Harapan serta pertumbuhan terminal dan logistik. Mulai 1 Februari 2025, Maersk beroperasi dalam Gemini Cooperation bersama Hapag-Lloyd untuk reliabilitas jadwal >90% dan jaringan hub-and-spoke.
3) CMA CGM

CMA CGM menempatkan ~3,88 juta TEU dari ~664 kapal dan memperkuat diversifikasi melalui akuisisi Bolloré Logistics. Pendapatan 2024 mencapai USD 55,5 miliar, naik ~18% yoy; logistik diperkirakan menyumbang porsi besar pendapatan 2024–2025. Di lini pelayaran, CMA CGM tetap di OCEAN Alliance yang diperpanjang hingga 2032 bersama COSCO, Evergreen, dan OOCL.
4) COSCO Shipping Lines

Grup COSCO (melalui COSCO Shipping Holdings) mengoperasikan ~3,35 juta TEU dengan ~519 kapal. Pendapatan operasional 2024 mencapai RMB 233,86 miliar (sekitar USD 33 miliar), naik 33% yoy, ditopang volume 25,94 juta TEU dan tarif yang lebih tinggi akibat krisis Laut Merah. COSCO adalah pilar OCEAN Alliance yang masa kerjanya diperpanjang hingga 2032.
5) Hapag-Lloyd

Hapag-Lloyd mengelola ~2,35 juta TEU dengan ~300 kapal. Pendapatan 2024 sebesar EUR 19,1 miliar dengan EBIT EUR 2,6 miliar, meski biaya naik karena pengalihan rute di sekitar Afrika. Sejak 1 Februari 2025, Hapag-Lloyd berpartner dengan Maersk dalam Gemini Cooperation untuk meningkatkan ketepatan waktu dan efisiensi jaringan.
6) ONE (Ocean Network Express)

ONE mengoperasikan ~1,98 juta TEU dari ~257 kapal. Untuk FY2024 (Apr 2024–Mar 2025), ONE melaporkan pendapatan USD 19,23 miliar dan laba bersih USD 4,24 miliar, naik tajam berkat perbaikan tarif dan volume. Mulai 2025, ONE bergabung dalam Premier Alliance bersama HMM dan Yang Ming, penerus THE Alliance, efektif lima tahun.
7) Evergreen Marine

Evergreen menempatkan ~1,79 juta TEU dengan ~225 kapal. Perusahaan melaporkan pendapatan 2024 sebesar TWD 463,6 miliar dan lonjakan laba, seiring rute memutar Laut Merah yang memperpanjang hari layar dan mendongkrak tarif. Evergreen tetap di OCEAN Alliance yang sudah diperpanjang hingga 2032.
8) HMM

HMM mengoperasikan ~914 ribu TEU dari ~83 kapal. Pendapatan 2024: KRW 11,7 triliun dengan margin operasi ~30%, mencerminkan pemulihan kuat pasar. HMM kini berada dalam Premier Alliance bersama ONE dan Yang Ming, perjanjian berbagi kapal yang efektif Februari 2025 untuk koridor Asia–Amerika, Asia–Eropa, dan Timur Tengah.
9) ZIM Integrated Shipping

ZIM mengoperasikan ~781 ribu TEU dari ~130 kapal, fokus pada jaringan asset-light dengan chartering fleksibel. Pendapatan 2024 mencapai USD 8,43 miliar dengan perbaikan EBITDA dan EBIT setelah tahun 2023 yang menantang. ZIM beroperasi independen di luar aliansi besar, menjaga kelincahan penetapan kapasitas pada pasar niša dan jalur Trans-Pasifik.
10) Yang Ming

Yang Ming memiliki ~711 ribu TEU dari ~98 kapal. Untuk 2024, manajemen melaporkan pendapatan konsolidasi NT$ 222,71 miliar (~USD 6,94 miliar) dan laba bersih NT$ 64,18 miliar, didorong volume dan tarif yang membaik. Yang Ming bergabung dalam Premier Alliance efektif Februari 2025 guna mengoptimalkan jaringan Asia–Amerika dan Asia–Eropa.
Catatan Metodologi Singkat
Peringkat kapasitas dan data jumlah kapal mengacu pada kompilasi Alphaliner (Maret 2025) yang dihimpun publik oleh Wikipedia. Kapasitas dapat berubah karena pengiriman kapal baru/penarikan kapal lama.
Pendapatan 2024 diambil dari publikasi resmi perusahaan dan/atau rilis investor terbaru. Untuk MSC, data tidak tersedia karena perusahaan tidak merilis angka keuangan secara publik.
Ringkasan
Kapasitas terbesar: MSC masih nomor satu secara TEU. Transparansi finansial: semua operator publik merilis pendapatan, MSC tidak. Aliansi: mulai 2025 peta berubah—Gemini (Maersk–Hapag), Premier Alliance (ONE–HMM–Yang Ming), OCEAN Alliance (CMA CGM–COSCO–Evergreen–OOCL) diperpanjang ke 2032. Implikasi bagi pengirim: lebih banyak layanan hub-and-spoke, rute memutar Laut Merah masih mempengaruhi jadwal dan biaya.
Sumber kunci kapasitas: Alphaliner via Wikipedia (Maret 2025). Sumber kunci pendapatan 2024: Maersk (USD 55,48 miliar), CMA CGM (USD 55,5 miliar), COSCO (RMB 233,86 miliar), Hapag-Lloyd (EUR 19,1 miliar), ONE (USD 19,23 miliar, FY2024), Evergreen (TWD 463,6 miliar), HMM (KRW 11,7 triliun), ZIM (USD 8,43 miliar), Yang Ming (NT$ 222,71 miliar), MSC tidak dipublikasikan.




