Pelabuhan Tanjung Priok adalah pelabuhan laut terbesar dan tersibuk di Indonesia, serta pusat utama arus cargo, logistik, dan ekspedisi nasional yang melayani lebih dari 50% perdagangan kontainer internasional Indonesia. Pelabuhan ini memainkan peran penting dalam sistem supply chain nasional karena menghubungkan produksi dalam negeri dengan pasar global melalui jaringan rute laut yang luas.
Table of Contents
ToggleProfil Pelabuhan Tanjung Priok
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Nama | Pelabuhan Tanjung Priok |
| Lokasi | Tanjung Priok, Jakarta Utara, Indonesia |
| Koordinat | 06°06’00″S 106°53’00″E |
| Operator | Pelindo (PT Pelabuhan Indonesia persero) Regional 2 |
| Jenis Pelabuhan | Petikemas, multipurpose, curah |
| Panjang Dermaga | 8.216 meter (MTI); total hingga 27 km |
| Luas Penumpukan | 176.007 m² |
| Gudang | 19.101 m² |
| Terminal Petikemas | JICT I, JICT II, TPK Koja, MAL, MTI |
| Throughput 2025 | 8,3 juta TEUs petikemas; 21,51 juta ton barang |
| Kapal Dilayani 2025 | 14.163 kapal |
| Alamat | Tanjung Priok, Jakarta Utara 14310 |
Pelabuhan Tanjung Priok menangani arus cargo besar untuk logistik nasional dan internasional. Pada 2025, pelabuhan ini mencatat 8,3 juta TEUs petikemas, setara dengan jutaan kontainer standar 20 kaki yang mendukung rantai pasok global.
Sejarah Pelabuhan Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok dibangun pada era Hindia Belanda untuk menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa yang sudah dangkal akibat sedimentasi Sungai Ciliwung. Pembangunan dimulai pada 12 Mei 1877 di bawah Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge dan dilanjutkan pada 1886 dengan biaya sekitar 26,5 juta gulden.
Pembangunan resor dilakukan oleh J.A. de Gelder untuk menampung peningkatan perdagangan. Pada 1914, stasiun kereta Tanjung Priok dibangun untuk mendukung konektivitas. Pasca-kemerdekaan, pelabuhan ini menjadi pintu gerbang utama ekspor impor Indonesia, dengan peningkatan volume cargo signifikan.
Sejak dikelola Pelindo, pelabuhan terus dimodernisasi. Pada 2021, throughput mencapai 6,75 juta TEUs, dan terus tumbuh hingga 8,3 juta TEUs di 2025 meski tantangan pandemi.
Fasilitas Utama Pelabuhan Tanjung Priok
Pelabuhan Tanjung Priok memiliki fasilitas lengkap untuk bongkar muat cargo dan layanan ekspedisi. Dermaga panjang 8.216 meter di MTI dilengkapi Gantry Luffing Crane 9 unit, Overhead Crane 12 unit, dan Spreader 2 unit untuk efisiensi operasi logistik.
Lapangan penumpukan seluas 176.007 m² dan gudang 19.101 m² mendukung penyimpanan barang curah maupun kontainer. Terminal petikemas seperti JICT dan Koja menggunakan Container Crane 4 unit, Transtainer 11 unit, serta forklift dan top loader untuk percepatan proses.
Integrasi transportasi termasuk KAI Commuter dan Transjakarta memudahkan akses. Kedalaman air -5 hingga -14 meter (MLWS) memungkinkan kapal besar berlabuh aman.
Peran Pelabuhan Tanjung Priok Pada Logistik Nasional
Pelabuhan Tanjung Priok menjadi pusat logistik utama Indonesia dengan nilai impor 37,36% nasional pada 2023, senilai US$82,89 miliar. Pada Juli 2024, bongkar muat mencapai 1,5 juta ton barang, tertinggi nasional.
Untuk petikemas, rata-rata bulanan sekitar 692.000 TEUs (berdasar 8,3 juta TEUs/12 bulan di 2025), mendukung ekspor impor dan distribusi antar pulau. Layanan ekspedisi di sini mengintegrasikan cargo darat, laut, dan udara untuk rantai pasok efisien.
Peningkatan throughput non-petikemas 14,4 juta ton hingga November 2025 (109% target) perkuat posisi sebagai motor logistik. Koordinasi dengan stakeholder jaga kelancaran operasi.
Data Pencapaian Pelabuhan Tj. Priok
| Tahun | TEUs Petikemas | Tonase Barang | Catatan |
|---|---|---|---|
| 2024 | 7,6 juta | 9,1 juta ton | data BPS |
| 2025 | 8,3 juta | 21,51 juta ton | Rekor 14.163 kapal |
Optimasi arus kapal tingkatkan efisiensi logistik. Fasilitas modern seperti kapal tunda 15 unit dan pandu 7 unit dukung operasi harian.
Dampak Aktifitas Pelabuhan Tj. Priok Pada Ekonomi
Pelabuhan Tanjung Priok dorong perekonomian dengan hubungkan Indonesia ke pasar global melalui cargo kontainer. Aktivitas ini ciptakan lapangan kerja di sektor logistik dan ekspedisi.
Volume tinggi TEUs per bulan perkuat daya saing ekspor. Modernisasi berkelanjutan pastikan pelabuhan tetap jadi benchmark Asia Tenggara.




