Kalau kamu mengikuti berita otomotif belakangan ini, kamu pasti sering menemukan istilah “truk listrik China”. Istilah ini muncul di berbagai konten informatif belakangan ini. Bukan tanpa alasan, industri logistik di China memang sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Truk bertenaga baterai perlahan mulai menggantikan truk diesel yang dulu mendominasi jalanan.
Pertanyaannya sekarang, apakah tren ini benar-benar akan membuat biaya logistik lebih murah, atau justru cuma euforia sesaat? Yuk kita bahas satu per satu.
Baca juga: Mengenal Truk Engkel: Jenis, Ukuran Bak, dan Kapasitas Muatannya
Penggunaan Truk Listrik di China Meningkat
Penjualan truk listrik di China tumbuh pesat dalam dua tahun terakhir. Penjualan melonjak terutama pada tahun 2025. Banyak pembeli mempercepat pembelian sebelum program subsidi tukar tambah kendaraan berakhir. Momentum ini berlanjut ke awal 2026. CVWorld.cn mencatat penjualan truk berat energi baru naik 45 persen pada kuartal pertama 2026, mencapai 44.000 unit. Truk listrik mendominasi sebagian besar angka penjualan tersebut.
Kenapa China Mulai Banyak Menggunakan Truk Listrik?
China mulai banyak menggunakan truk listrik karena kombinasi kemajuan teknologi baterai, efisiensi biaya energi, dan kebijakan pemerintah yang mendukung. Berikut beberapa faktornya:
- Industri baterai China sudah sangat matang dan harganya makin kompetitif.
- Biaya energi listrik jauh lebih murah daripada solar. Kenaikan harga minyak akibat konflik di Iran ikut mendorong lonjakan penggunaan truk listrik.
- Pemerintah China membangun infrastruktur pengisian daya secara masif di sepanjang jalur logistik utama dan kawasan industri.
- Kebijakan subsidi pembelian serta program tukar tambah truk lama membuat truk listrik makin murah bagi pengusaha logistik.
Seberapa Hemat Truk Listrik Dibandingkan Truk Diesel?
Dari sisi biaya energi, truk listrik jelas lebih unggul. Tarif listrik untuk pengisian daya jauh lebih rendah daripada harga solar. Biaya perawatan juga cenderung lebih murah. Truk listrik tidak memiliki mesin kendaraan dengan banyak komponen. Komponen semacam itu biasanya butuh servis rutin, ganti oli, atau perawatan sistem bahan bakar.
Kekurangan Truk Listrik
- Harga belinya masih jauh lebih mahal daripada truk diesel dengan spesifikasi yang hampir setara.
- Jarak tempuhnya masih pendek dan butuh pengembangan lebih lanjut.
- Kapasitas muatan sedikit berkurang karena bobot baterai yang berat. Truk listrik kadang mengangkut muatan lebih sedikit daripada truk diesel meski ukurannya sama.
- Waktu pengisian daya juga masih lebih lama daripada isi solar.
- Stasiun pengisian daya belum merata di semua wilayah. Karena itu, truk listrik lebih cocok untuk rute pendek dan menengah ketimbang perjalanan lintas provinsi yang jauh.
Apakah Truk Listrik Bisa Menurunkan Biaya Logistik?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul. Jawaban sederhananya, penghematan bahan bakar dan perawatan memang bisa menekan biaya operasional perusahaan logistik. Efeknya paling terasa untuk armada yang beroperasi setiap hari dengan rute yang jelas. Meski begitu, kita perlu memahami bahwa biaya operasional yang lebih rendah tidak otomatis membuat tarif pengiriman ke konsumen ikut turun.
Apakah Truk Listrik Cocok untuk Indonesia?
Kondisi Indonesia dan China cukup berbeda dalam banyak hal. Harga solar bersubsidi di Indonesia masih relatif murah daripada harga pasar internasional. Karena itu, selisih biaya energi antara truk diesel dan truk listrik belum semenarik di China.
Truk listrik juga punya kebutuhan operasional yang jauh berbeda dari kendaraan pribadi listrik. Banyak rute logistik di Indonesia menempuh jarak jauh antarpulau dan antarkota. Ini jadi tantangan bagi truk listrik yang jarak tempuhnya masih pendek. Stasiun pengisian daya untuk kendaraan komersial berat pun masih sangat minim dan hanya ada di kota-kota besar.
Peluang Truk Listrik untuk Logistik Indonesia
Walaupun tantangannya nyata, bukan berarti truk listrik tidak punya peluang di Indonesia. Beberapa aspek membuat truk listrik cukup potensial untuk perusahaan logistik coba lebih dulu. Contohnya pengiriman dalam kota dengan rute pendek dan berulang setiap hari.
Perjalanan dengan rute yang sudah tetap juga punya peluang, seperti angkutan antar gudang atau antar cabang perusahaan yang jaraknya sudah terukur. Dengan rute yang jelas, perusahaan bisa menyesuaikan posisi stasiun pengisian daya dengan lebih mudah.
Pada akhirnya, tren truk listrik China layak kita perhatikan sebagai gambaran arah masa depan transportasi logistik. Meski begitu, penerapannya di Indonesia tetap perlu menyesuaikan kondisi lapangan, bukan sekadar mengikuti tren dari negara lain.
Baca juga: Truk Sumbu 3: Pengertian, Kapasitas Muatan & Regulasinya
Sumber: Astra UD trucks, Kontan.co.id, CVWorld.cn, Reuters




